Senin, 21 Januari 2013

Loko lori beraneka warna



     Bila bicara tentang kereta api, akan terpikir dibenak kita suatu alat transportasi angkutan penumpang atau barang yang ditarik lokomotif. Nah, mari kita intip sisi lain kereta api, yaitu kereta api pengangkut tebu yang ada di Pabrik Gula atau biasa disebut lori. Bila lokomotif kereta penumpang reguler bentuknya relatif besar, lain halnya dengan loko Pabrik Gula ini, loko lori ukurannya jauh lebih kecil dari kereta penumpang, karena menyesuaikan lebar relnya yang minim.

     Loko lori yang pernah berjaya pada masanya semakin lama semakin minim pengoperasiannya, apalagi pada Pabrik Gula yang lokasinya berada di kota. Loko antik yang tidak digunakan kebanyakan dibiarkan begitu saja didalam gudang loko, tanpa ada perawatan yang membuat kondisi loko-loko ini semakin memprihatinkan. 

     Loko Pabrik Gula ini memiliki berbagai macam bentuk. Biasanya berbeda Pabrik Gula bentuk loko dan warnanya pun berbeda. Yang saya tahu, beberapa Pabrik Gula sudah menerapkan paket agrowisata yang salah satunya adalah wisata loko antik ini. Pada Pabrik Gula yang masih menggunakan jalur rel ke kebun, kita bisa melihat betapa asyiknya suasana saat loko-loko antik ini membawa rangkaian lori sarat muatan dari kebun menuju ke pabrik atau sebaliknya.

     Berikut foto loko-loko antik yang saya ambil saat berkunjung ke beberapa Pabrik Gula (PG);

     Seiring terbenamnya matahari, loko diesel hokuriku PG Jatiroto-Lumajang datang dari kebun menuju pabrik dengan membawa rangkaian lori bermuatan tebu.

      Loko diesel yashima PG Kedawung-Pasuruan dalam perjalanan menjemput rangkaian lori yang sedang di isi tebu di kebun.

     Loko diesel kyosankogyo PG Olean-Situbondo bersiap membawa rangkaian lori keluar pabrik.

      Loko diesel schoema PG Semboro-Jember terlihat seperti berjalan diatas rumput. Loko mini ini digunakan untuk menarik lori dari kebun menuju rel utama.

     Dibawah teriknya matahari, loko diesel schoema PG Gending-Probolinggo sedang menghela lori kosong.

     Dua diesel schoema PG Krebet Baru-Malang berturut-turut melintasi depan rumah warga setempat dengan membawa rangkaian lori bermuatan tebu.

      Rail car atau dresine PG Jatiroto bersiap berangkat ke kebun. Lori jenis ini sekarang hanya beroperasi di PG Jatiroto, Lumajang.

      PG Olean masih mengoperasikan loko uap untuk berdinas ke kebun. Saya sempatkan berfoto sebelum loko uap 'ardjuno' ini berangkat.

     Seperti inilah loko wisata yang dioperasikan di PG Semboro, Jember. Terlihat turis asing sangat menikmati perjalanan wisatanya.

      'Loko susu', ini sebutan warga sekitar untuk loko fireless PG Semboro ini. Loko ini tidak memiliki pembakaran sendiri. Uap loko berasal dari uap ketel pabrik. Jadi bila uap habis, loko harus mengisi uap lagi (menyusu).

      Dua loko uap sedang menanti gilirannya membawa lori bermuatan tebu dari crane ke emplasemen PG Merican, Kediri. Sayangnya loko uap ini sudah berhenti dinas sejak musim giling 2012, setahun setelah foto ini dibuat.


     Belum banyak masyarakat yang tahu adanya wisata loko antik ini karena kebanyakan kegiatan wisata Parik Gula jarang terekspose keluar, selama ini yang tahu hanya para fanatik sejarah dan turis asing yang rutin datang tiap tahunnya. Padahal Pabrik Gula ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang masyarakat belum tahu. Kita tidak hanya bisa ke museum-museum untuk melihat lokomotif kuno, di Pabrik Gula juga menyimpan banyak loko antik kuno peninggalan sejarah yang nyata masih berfungsi.

     Keanekaragaman loko-loko lori ini membuatnya tak kalah menarik dengan kereta api penumpang biasa. masih banyak lagi keunikan yang bisa ditemui pada kereta yang hanya ada di Pabrik Gula ini. Saya berharap kegiatan wisata loko antik seperti ini bisa dikembangkan di semua Pabrik Gula karena wisata jenis ini masih belum banyak dijumpai dan peminatnya yang sangat luas tak hanya bagi para penggemar lori seperti saya tetapi pecinta wisata sejarah pada umumnya.


     ~Lihat juga..
       Agrowisata Pabrik Gula, Potensi Wisata Sejarah

13 komentar:

  1. saya ambil fotonya , sangat bermanfaat
    makasih banyak
    sehat selalu mas ahmad
    n tambah sukses

    BalasHapus
  2. Mas Arief, seru blog-nya nih, bisa jadi obat kangen, saya dulu tinggal di PG Krebet Baru...duluuuu banget :-) , btw di bengkel/emplasemen loko ada yg loko Simplex, difoto tidak? jenis ini tidak beroperasi lagi setahu saya. makasih, salam dari Jakarta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih
      Ya mas, saya tahu didalam remise ada beberapa loko simplex yang sudah pensiun, salah satunya ada yg dimodiv menjadi crane..

      Hapus
    2. Sejamankah dengan Endro Siswoko putra pak Yachman..???

      Hapus
    3. @Aryoko Sugito..,sejamankah dengan Endro Siswoko putra pak Yachman..??

      Hapus
  3. bagus infonya mas.jadi teringat masa kecil suka numpang/naek di lori tebu.sensasinya beda.lebih gledhek2..hehe

    BalasHapus
  4. Mas aku minta foto lori jatoroto untuk tugasku. Makasih banyak yaak. Aku cantumin alamat blog mas di bawah foto kok :)

    BalasHapus
  5. Dari sekian banyak lokomotif uap lori tebu yang menurut saya menarik itu lokomotif susu,karena lebih hemat dlm penggunaan ampas tebu dan lebih ramah lingkungan, karena tanpa pembakaran sehingga tidak ada asap hitam kecuali uap bersih

    BalasHapus